Jumat, 19 April 2013

A word that called "Nyo"

Apa yang kita pikirkan ketika kita mencintai seseorang? Tentu bermacam-macam hal tentang dia bukan? Apa yang dia sukai, bagaimana kebiasaannya, dan mungkin kita ingin selalu tahu apa yang sedang dia kerjakan sekarang. Ya, jatuh cinta memang bisa memberikan berbagai macam perasaan yang sulit untuk bisa di deskripsikan secara jelas. Sebagian orang melukiskan perasaan cinta dengan berbagai kata-kata yang indah dan perilaku romantis dan sebagian lainnya ada juga yang melukiskan cinta sebagai ekspresi yang simple, tegas, pasti namun begitu dalam untuk dipahami.

Dalam kitab Kidung Agung yang dikarang oleh Raja Salomo, kita bisa melihat bagaimana cinta dilukiskan. Bagaimana cinta dihargai dengan begitu indah, terlepas dari kisah pribadi Salomo. Dalam kitab tersebut cinta itu kuatnya seperti alam maut, gairahnya mendekati dunia orang mati dan nyala api cinta seperti nyala api Tuhan. Cinta tidak bisa dipadamkan dengan air yang begitu banyak, juga tak bisa dihargai dengan harta dunia, sekalipun orang kaya menghargai dengan materi, namun dia akan dicemooh dan akan jatuh karena cinta juga. 

Sebegitu kuatnya kah kekuatan cinta? Apabila cinta mampu membuat orang gampang untuk menghilangkan nyawanya, masihkah kita patut bertanya seberapa kuat cinta itu? Cinta juga yang memiliki kekuatan untuk mengubah dunia. Cinta mampu membuat orang untuk berbuat yang terbaik demi orang yang dicintainya. Cinta mampu membuat orang untuk berkorban demi bersama orang yang dicintainya. 

Sekalipun tiap orang memiliki karakter yang berbeda, cara yang berbeda dalam mencintai, tapi cinta itu tetap. Sampai kapanpun cinta tak akan pernah berubah. Sekalipun mungkin dipisahkan oleh ruang dan waktu, tapi cinta itu tetap.Ya, dalam masa depan maupun masa lalu cinta akan tetap hidup. Cinta akan selalu hadir dalam bentuk dan situasi yang berbeda. Tergantung bagaimana kita bisa melihat dan merasakannya.

Namun dari apa yang kita ketahui tentang cinta, hanya 1 hal untuk bisa menghargai cinta. Berikan segala usaha terbaik yang kita miliki untuk mendapatkan, menjaga dan menikmati cinta. Dengan bijaksana, dewasa, dan penuh damai sejahtera.

Amien.

Selasa, 16 April 2013

Need A Candle

Saat seseorang berjalan dalam sebuah kegelapan, apa sih yang dia butuhkan? Sebuah cahaya bukan? Cahaya walau sekecil apapun mampu membuat perbedaan dalam kegelapan. Lilin yang berjarak beberapa meter dari kita, sudah mampu memberikan kita arah yang jelas ketika kita berjalan dalam kegelapan. Apalagi saat tak ada cahaya lain di sekitar lilin tersebut. Sama halnya dengan kita yang mungkin saat ini butuh setitik cahaya untuk menerangi gelap masalah kita.

Saat seakan kita tak mampu membuat perubahan apapun, kita kadang berpikir "Sebenarnya apa yang belum aku lakukan?". Segala usaha dan cara mungkin sudah dicoba, tapi hasil yang kita terima tetap saja mengecewakan. Entah itu karena faktor keadaan sekitar, orang lain atau bahkan diri kita sendiri. Ya, diri kita sendiri pun bisa menjadi salah satu faktor kegagalan kita membuat perubahan. Dalam keadaan seperti ini, setitik cahaya dari lilin mampu memberi kita harapan dan sebuah jawaban.

Cahaya, seringkali digunakan sebagai simbol dari sebuah harapan dan juga jawaban. Seperti sifatnya yang menerangi gelap yang menjadi simbol dari setiap kesedihan, masalah dan kekecewaan. Dalam setiap acara motivasi, bincang-bincang santai (curhat antar teman), sharing dengan orang yang lebih dewasa dan bijaksana, cahaya seringkali digunakan sebagai acuan memberi harapan dan semangat yang baru. 

Namun tidak hanya ketika sudah ada cahaya lalu kita merasa aman, nyaman dan puas. Tindakan lebih lanjut perlu dilakukan, setelah kita memiliki cahaya. Kebanyakan orang lebih memilih menjaga lilin tersebut tetap menyala ditempat. Bukan malah mengangkat lilin tersebut dan menjadikannya penerang dalam perjalanan kita. Seringkali kita takut lilin yang kita miliki itu mati, sehingga kita lebih sibuk menjaga lilin itu tetap menyala tanpa beranjak sedikitpun dari tempat lilin itu berada. Atau bahkan ketika kita tahu bahwa ada lilin yang menjadi jawaban, kita justru takut melangkah menghampirinya. Entah dengan alasan apa yang membuat kita lebih memilih tidak menghampiri lilin tersebut.

Ya, kita perlu memantapkan langkah ketika sudah ada jawaban bagi masalah kita. Bangun sebuah keyakinan dalam diri, bahwa memang ini jawaban yang sangat bijaksana bagi masalah kita. Jawaban yang benar adalah jawaban yang juga mengajar kita untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Jawaban yang benar adalah jawaban yang juga bisa membentuk karakter kita. Jawaban yang benar adalah jawaban yang tak akan merugikan siapapun dan memberikan damai sejahtera ketika kita melakukannya. Tidak ada satupun jawaban yang benar dari sebuah tindakan yang merugikan, merusak dan mengecewakan orang lain. 

Lalu siapa yang bisa menjadi lilin tersebut? Orang lain, entah itu sahabat, teman, saudara juga orang tua atau bahkan orang yang belum kita kenal. Bahkan sebenarnya diri kita sendiripun bisa menjadi lilin bagi masalah yang kita hadapi. Namun yang terpenting adalah kita menyadari bahwa setiap lilin berasal dari Tuhan. Karena Dialah sumber dari segala lilin di dunia ini. Terlepas dari agama apa yang kita anut, tapi kita percaya bahwa Dia yang mampu memberikan kita lilin kala kita berada dalam kegelapan pekat.

Jadi, kesimpulan apa yang kita dapat? Saat kita kecewa, sedih, bahkan merasa tidak ada jalan keluar dari setiap permasalahan, yakinlah bahwa ada lilin yang Tuhan sediakan ketika kita dalam gelap. Yakin dan berimanlah bahwa Tuhan memberi jawaban dari setiap doa-doa kita. Karena cinta Tuhan itu setia, tetap dan tidak akan pernah berubah bagi kita.

Amien.